30 November 2009

Menulis dan Melamun Sebagai Ritual Harian


It's a new day... it's a new life...
Ungkapan itu kayaknya mengungkapkan perasaanku dalam menjalani hari demi hari di kehidupan ini. Menurutku setiap hari kita dilahirkan kembali untuk meningkatkan usaha kita dalam proses belajar menjadi seorang manusia hamba Allah yang utuh, yang bisa dibanggakan oleh Penciptanya. Setiap hari adalah bagian dari suatu rangkaian proses panjang pencarian makna hidup.

Aku memulai hari ini dengan semangat baru, komitmen baru untuk memulai suatu ritual/kebiasaan baru yang bermakna. Komitmen ini muncul setelah kemarin mengobrak-abrik isi blog pak Roni, yang luar biasa... harapanku kebiasaan ini akan membawa manfaat bagi perkembangan diri dan kehidupan...

Beberapa ritual yang sudah kulakukan pagi ini yaitu diantaranya, biasanya aku begitu bangun yang pertama kali ku pegang n kulakukan adalah mencari hp untuk melakukan surving internet hehehe... Melihat apa yang terjadi di situs-situs komunitas/pertemanan seperti facebook, twitter dan sebagainya. Atau begitu bangun langsung melakukan aktivitas lain, soalnya bangunnya kesiangan :). Tapi aku mencoba mulai hari ini, untuk mulai bangun pagi hari lebih pagi dari biasanya, lalu begitu mulai membuka mata, aku berhenti sejenak, dalam posisi setengah sadar, untuk berdiam diri. Benar-benar berdiam diri, hanya mendengarkan alunan suara nafas, dengan mata terpejam, pikiran kosong. Mempersiapkan diri untuk menghadapi hari ini. Mempersiapkan diri untuk mengalami segala keajaiban untuk hari ini. Hasilnya... hati menjadi lebih bersemangat, pikiran menjadi lebih segar, penuh dengan inspirasi. Setelah itu baru dech melakukan aktivitas lain, seperti beribadah, membaca buku dan berbagai aktivitas harian lainnya.

Kemudian ada kegiatan lain yang juga ingin kujadikan ritual baru dalam kehidupanku, yaitu menulis. Ternyata kegiatan menulis itu sangat besar manfaatnya bagi diri kita. Kegiatan membaca dan menulis adalah aktivitas yang tak terpisahkan.

Saat mengunjungi blognya pak Jamil, aku menemukan satu artikel yang menarik yaitu 7 Kedahsyatan Menulis. Beliau menjelaskan bahwa setidaknya ada 3 alasan penting kenapa kita harus menulis, diantaranya :
1. Menulis itu penting supaya ilmu tidak hilang.
2. Menulis untuk memperkuat otak kanan, yang berkenaan dengan hal-hal non logical seperti mempertajam perasaan, menumbuhkan empati, meningkatkan sensitivitas, kreativitas.
3. Menulis untuk mengurangi tacit knowledge (ilmu/kelebihan seseorang yang sulit ditransfer ke orang lain).

Lalu menurut beliau ada 7 Kedahsyatan menulis diantaranya :
1. Mengurangi stres, kondisi mental orang-orang yang terbiasa mengekspresikan emosi atau unek-unek dengan menulis, lebih stabil dibandingkan orang-orang yang tidak terbiasa menulis.
2. Membantu menemukan jalan hidup.
3. Menjaga semangat dan komitmen
4. Mencari dan memperkaya inspirasi
5. Mendatangkan passive income. Tulisan yang baik sangat bisa dijadikan buku, diterbitkan dan dijual, yang bisa mendatangkan income kepada penulisnya.
6. Meningkatkan kreativitas. Menulis yang rutin dan sinambung, lama-kelamaan akan mendorong kita untuk terus menggali lebih dalam bagaimana cara menulis yang baik, penyampaian yang sistematis, dan gaya penulisan yang menarik.
7. Menyimpan memori. Terlalu banyak kisah hidup dan aktivitas keseharian yang sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja, tanpa dibungkus dalam album yang setiap saat bisa dibuka2 kembali. Mau itu kisah suka, mau itu duka, akhirnya pasti akan membuat kita tersenyum ketika membacanya kembali. Sebagai catatan perjalanan hidup, sehingga kita bisa belajar hari demi hari untuk memperbaiki diri.

Setelah menyadari begitu besar manfaat dari aktivitas menulis, maka aku ambil keputusan mulai hari ini. Aku harus menyediakan waktu khusus satu jam setiap pagi untuk menulis apapun yang ada dalam benak dan pikiranku. Aku harus menyingkirkan segala macam alasan dan rasa malas yang menghalanginya. Emang mungkin pada awalnya akan agak sulit untuk mengeluarkan ide dalam bentuk tulisan. Apalagi untuk pemula seperti aku. Tapi itu gak boleh dijadikan alasan, semua orang yang memulai sesuatu pasti akan sulit pada langkah pertama. Tapi langkah selanjutnya tinggal mengikuti dan segalanya akan lebih mudah. Yang penting komitmen, terus berusaha dan belajar terus menerus.

Semoga apa yang kulakukan akan selalu membawa manfaat dan kebaikan bagi diriku. Amin...

Salam Bahagia,
Hammar
Aljas Hammar Web Developer

25 November 2009

Lembu Yang Gagal Melewati Jendela


Kalau kita datang ke toko buku, maka kita jumpai ada begitu banyak autobiografi tokoh-tokoh Indonesia di berbagai bidang dan umumnya ditulis oleh para mantan pejabat, pengusaha, tokoh masyarakat dan sebagainya. Tapi yang menimbulkan pertanyaan adalah, mengapa dengan begitu banyaknya orang-orang hebat tersebut, kita justru mengalami krisis kepemimpinan yang masih belum bisa membawa kita keluar dari kemelut krisis yang melanda kehidupan kita ini?

Mengenai pencerahan ini guru di zaman dulu mengumpamakan seekor lembu yang melewati jendela : tanduk, kaki dan tubuhnya berhasil lewat, namun ekornya malah tersangkut. Seorang bisa saja melakukan hal-hal yang mulia, tapi kalau keinginan untuk menjadi termasyhur tidak bisa dihilangkan, maka ia masih memiliki kelemahan. Seperti halnya lembu tersebut di atas dan akhirnya tidak bisa lolos karena ekornya tersangkut. Meski kelemahan secuil saja, orang belum bisa dianggap mengerti.

Alkisah, ada seorang murid yang setelah selesai belajar, berusaha menyebarkan ilmu yang didapat dari gurunya kemana-mana. Ia mengajarkan doktrin mengenai "hidup adalah kosong karena itu kita tidak boleh melekat pada, baik hal yang susah maupun yang menyenangkan hati".
Karena kepandaiannya dalam memberikan ceramah, dalam waktu singkat namanya terkenal di mana-mana. Ia menceritakan dengan bangga semua itu kepada gurunya dan bermaksud menuliskan semua pandangannya dalam sebuah buku. Dengan penuh semangat ia menulis surat kepada gurunya mengenai usahanya mengharumkan nama gurunya dan minta supaya gurunya memberikan komentar atas buku yang ditulisnya.
Tak lama kemudian datanglah komentar singkat dari gurunya berbunyi : Kentut Busuk!
Tentu saja murid itu sangat kecewa dan buru-buru datang menemui gurunya untuk minta kejelasan.
Sang guru hanya tersenyum sambil berkata, "Kamu kan giat sekali mengajarkan supaya jangan terikat pada hal yang menyenangkan maupun yang susah!"
Memang tidak mudah melaksanakan apa yang kita bicarakan. Orang meski sudah mempelajari berbagai ilmu pengetahuan, tapi akhirnya belum mampu meleburkan diri dalam kesadaran kosmis.

Kita bisa menghindarkan diri supaya tidak menjadi lembu yang gagal melewati jendela karena ekornya tersangkut. Karena meski telah dan sedang melakukan hal-hal yang luar biasa, merasakannya sebagai hal yang biasa.

Sang Biasa

Mata memandang berlaksa fenomena, hati tetap tak bergeming... Biasa
Telinga mendengar puji dan cela, hati mampu tersenyum... Biasa
Di tengah rintangan suka duka, kaki tak berhenti melangkah... Biasa
Sukses-gagal datang menerpa, hati hening bahagia... Biasa

Dalam biasa, bebas leluasa; Karena biasa, selalu bahagia
Dengan biasa, putus belenggu dosa, hati bersih tiada noda.
Hanya dengan senjata biasa, takluklah semua mara,
tercapailah bebas merdeka untuk melanglang buana.
Berkelana dalam samsara, bergelut di tengah samudera nestapa;

Berjuang tiada henti dalam setiap masa.
Datang... datang dengan hati biasa, membawa semua kembali biasa,
hingga datanglah kerajaan biasa, semua sukacita dalam biasa;
Bahagia merdeka sepanjang masa... Luar Biasa

Manusia biasa mengasihi segalanya, namun dalam hatinya yang biasa,
ia tak pernah merasa telah memberikan kasih yang besar untuk orang di sekelilingnya.
Karena tiada bekas di dalam hati, maka tiada tuntutan dalam jiwa;
Karena tiada tuntutan dalam jiwa, tiada yang mampu menghentikan langkah kasihnya.
Inilah cinta sejati yang mampu lestari-kekal abadi
(Wang Che Kuang)

(Kearifan Kuno Di Zaman Modern, Jusuf Sutanto)
Aljas Hammar Web Developer