07 Desember 2009

Disiplin Diri - Acceptance (Pilar I)


Melanjutkan obrolan yang kemarin mengenai membangun disiplin diri, bahwa menurut Steve Pavlina dalam membangun disiplin ada 5 pilar yang menopangnya.

Pilar yang pertama adalah Acceptance (Menerima), yang dimaksudkan di sini adalah melihat kenyataan secara akurat dan mengetahui secara sadar kondisi yang terjadi pada diri kita.
Saat kita mengalami kesulitan dalam kehidupan, besar kemungkinan akar masalahnya adalah kegagalan untuk melihat kenyataan apa adanya.

Kesalahan utama berkaitan dengan mendisiplinkan diri adalah gagal untuk melihat secara akurat untuk kemudian menerima kondisi mereka saat ini. Seperti yang telah disebutkan pada artikel yang lalu, bahwa melatih kedisiplinan diri adalah ibarat berlatih mengangkat beban. Sehingga jika ingin sukses dalam berlatih menghadapi tantangan untuk mendisiplinkan diri, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah mencari tahu seberapa besar beban yang mampu kita angkat saat ini? Seberapa kuat disiplinmu saat ini? Tantangan mana yang mudah bagimu dan mana yang kelihatannya mustahil?

Coba lihat kegiatan yang kamu lakukan sehari-hari, dan amati dengan baik kondisimu :
  • Apakah kamu bangun pagi? jam berapa kamu bangun pagi?
  • Bagaimana dengan kondisi berat badanmu? Apakah dalam kondisi overweight?
  • Apakah kamu mengalami kecanduan terhadap sesuatu, seperti rokok, kopi, gula dsb?
  • Lihat inbox emailmu, dalam keadaan kosong atau penuh?
  • Lihat kantor dan meja kerjamu, dalam kondisi rapi atau berantakan?
  • Bagaimana kondisi tempat tinggalmu?
  • Berapa banyak waktumu yang tersia-sia dan terbuang percuma?
  • Apakah kamu selalu menepati janji-janjimu?
  • Bisakah kamu berpuasa secara penuh?
  • Sempatkah kamu melakukan olahraga?
  • Kapan terakhir kali kamu menghadapi tantangan fisik yang benar-benar menantang?
  • Berapa jam dalam waktu kerja di mana kamu benar-benar fokus dalam mengerjakan semua pekerjaanmu?
  • Lihat daftar kerja harianmu? Berapa banyak yang sudah kadaluwarsa?
  • Apakah kamu mempunyai visi/impian yang jelas dan tertulis? Apakah kamu mempunyai rencana untuk menulisnya?
  • Berapa jam sehari kamu menonton televisi? sanggupkan kamu untuk tidak menonton televisi selama 30 hari?
  • Bagaimana penampilanmu saat ini? Menurutmu apakah sudah mencerminkan kedisiplinan dirimu?
  • Kapan kamu terakhir kali memutuskan untuk memulai suatu kebiasaan baru yang baik, dan menghentikan kebiasaan burukmu?
  • Apakah kamu saat ini berhutang? Menurut kamu apakah itu sebagai modal kerja atau kesalahan semata?
  • Apa pencapaian terbesarmu? kapan terakhir kali kamu mencapainya?
  • Bisakah kamu menceritakan apa yang akan kamu kerjakan esok hari? minggu depan?
  • Dalam skala 1-10, kira-kira menurutmu dalam skala berapa kedisiplinan dirimu saat ini?
  • Kira-kira apa yang bisa kamu capai dan rasakan jika kamu bisa menjawab pertanyaan barusan dengan skala 9-10?
Dalam melatih kedisiplinan diri, tidak bisa dilakukan dengan terburu-buru dan berusaha untuk mengubah semuanya secara sekaligus. Sama dengan halnya melatih otot, latihan kedisiplinan juga terdiri dari berbagai macam bagian, seperti kedisiplinan dalam jam tidur, dalam bekerja, dalam berolahraga, mengatur makanan dan sebagainya. Dan tiap-tiap latihan membutuhkan strategi yang berbeda-beda.

Cobalah amati dan rasakan, kelemahan kamu yang utama itu di bagian yang mana? Sadari dan terima posisi kamu saat ini, dan kemudian atur program latihan untuk mengatasi kelemahanmu ini. Tanpa menerima kondisi dirimu, maka semuanya akan menjadi sia-sia karena hanya akan mendapatkan penyangkalan atau keacuhan, sehingga kamu tidak akan tahu seberapa tingkat disiplinmu saat ini. Yang mengakibatkan kita akan berada dalam cara pandang yang salah, entah terlalu pesimis atau optimis tentang kemampuan kita.

Terlalu pesimis sehingga kita hanya mengambil tantang yang ringan-ringan saja atau terlalu optimis sehingga kita terus berusaha mengangkat beban yang terlalu berat, yang mengakibatkan akhirnya kita putus asa dan menyerah.
Sebagai contoh misalnya kamu biasa untuk bangun tidur jam 10 pagi, apakah mungkin tiba-tiba kamu ingin sukses untuk bangun jam 5 pagi dengan sekejap? Kemungkinan besar kamu tidak akan berhasil... Mulailah dengan yang mudah dulu. Coba mulai dengan mencoba untuk bangun jam 9 pagi dulu, setelah berhasil untuk beberapa hari.... kemudian terus tingkatkan secara progresif sehingga akhirnya kamu sukses untuk bangun di jam 5 pagi... Hal itu akan mempermudah usahamu dan lebih memperbesar kemungkinan untuk berhasil.

Terakhir cobalah bayangkan apa yang bisa kamu peroleh dalam kehidupanmu dalam 5 - 10 tahun ke depan, saat berhasil mencapai kemajuan dalam kedisiplinan dirimu.
Melatih disiplin diri memang bukan hal yang mudah, tapi cukup berharga untuk dilatih dan diperjuangkan.

Jadi langkah awalnya adalah terima dirimu apa adanya, meskipun hal itu pahit bagimu. Ikhlaskan diri untuk menghadapi dan memperbaikinya. Kamu tidak akan menjadi lebih baik dan berkembang tanpa menerima keadaanmu yang sebenarnya saat ini.

Hanya menunggu perubahan tidak akan mengubah apa-apa. Kitalah yang harus melakukan tindakan nyata untuk membuat perubahan. Mulailah dari dirimu sendiri.

Salam Bahagia
Hammar
Aljas Hammar Web Developer

06 Desember 2009

Membangun Disiplin Diri


Hari ini aku pengen membahas soal disiplin diri...
Soalnya kedisiplinan ini adalah syarat mutlak untuk mencapai impian atau dalam melaksanakan misi hidup. Apapun misi hidup kita...
Dengan mendisiplinkan diri kita bisa membuang yang namanya penundaan, rasa malas, atau sifat acuh tak acuh.
Kedisiplinan diri merupakan alat pengembangan diri yang sangat ampuh saat dikombinasikan dengan passion, goal setting dan planning...

"All great leaders have understood that their number of responsibility was for their own discipline and personal growth.
If they could not lead themselves, they could not lead others.
Leaders can never take others farther than they have gone themselves, for one travel without until he or she has first travel within.
A leader can only grow when the leader's willing to pay the price for it."
-John Maxwell-

Untuk bisa meraih kesuksesan kita harus terlebih dahulu membayarnya dengan membangun kebiasaan.
Dan tidak ada cara lain untuk membangun kebiasaan kecuali dengan melakukan tindakan terus menerus dan berulang-ulang dengan disiplin.
Melalui disiplin kita dapat mengembangkan potensi dahsyat yang ada dalam diri kita.

Menurut John Maxwell dalam bukunya The Developing The Leader Within You. Ada 4 hal yang harus diperhatikan dalam pengembangan diri melalui disiplin, yaitu :
1. Mulai dari dirimu sendiri
2. Mulailah segera tanpa menunggu keadaan menjadi sempurna.
3. Mulai dari yang kecil. Lakukan secara bertahap, sedikit demi sedikit, yang penting lakukan langkah pertama.
4. Lakukan sekarang.

Kedisiplinan diri sebenarnya adalah kemampuan untuk mengambil tindakan atas kondisi emosional. Kedisiplinan diri adalah ketika mencapai satu titik dimana kita membuat keputusan secara sadar dan menjalankan keputusan itu.

Mengembangkan Disiplin Diri

Filosofi dalam pengembangan diri adalah seperti mengembangkan otot kita, semakin kita melatihnya, maka otot kita akan semakin kuat, dan jika kita tidak melatihnya maka otot kitapun akan menjadi semakin loyo.
Cara untuk meningkatkan kedisiplinan diri juga sama dengan penggunaan latihan beban untuk meningkatkan massa otot.
Maksudnya lakukan dengan mulai mengangkat beban maksimal yang mendekati beban limit yang mampu kita angkat. Paksa otot kita sampai maksimal, baru kemudian istirahat.
Kita perlu memulainya dengan tantangan yang sesuai dengan beban yang mampu kita angkat, tetapi yang mendekati batasan maksimal kemampuan kita.
Kemudian lakukan latihan secara progresif, dimana saat kita berhasil, kita tingkatkan lagi tantangannya. Karena jika tidak, maka tantangannya akan sama saja dan tidak akan meningkatkan kedisiplinan kita.

Ada satu kesalahan yang sering dilakukan saat mencoba untuk mendisiplinkan diri. Yaitu mencoba untuk menekan diri terlalu keras ketika meningkatkan disiplin diri.
Tidak mungkin bagi kita untuk mencoba mengubah seluruh kehidupan hanya dalam 1 malam dengan menyusun lusinan target baru untuk diri sendiri dan mengharapkan diri untuk mengikutinya secara konstan di keesokan harinya.
Ini juga yang menjadi kesalahanku saat mencoba untuk melakukan perubahan. Karena semangatnya... aku mencoba untuk menyusun daftar kebiasaan yang harus ku lakukan, dengan jumlah yang tidak sedikit. Tapi ternyata langkah yang aku lakukan tidak bermanfaat apa-apa. Yang ada kita hanya akan menemui kegagalan. Karena ternyata yang lebih efektif dalam menentukan tantangan untuk melakukan kebiasaan baru, maksimal lakukan 3 kebiasaan untuk jangka waktu 30 hari sampai 90 hari. Setelah itu baru tetapkan untuk melakukan kebiasaan lainnya.

Tak perlu malu untuk memulainya dari bawah. Jika kamu sekarang dalam kondisi yang tidak disiplin, kamu bisa memulainya dari yang ringan.
Semakin tinggi disiplin seseorang, maka kehidupan akan semakin mudah. Semakin lama tantangan yang dulunya tidak mungkin bagi dirimu akan menjadi seperti mainan anak-anak.
Jangan membandingkan diri dengan orang lain. Lihat kondisi dirimu saat ini dan manfaatkan untuk melakukan yang terbaik.

Menurut Steve Pavlina dalam blog nya, menyebutkan dalam kedisiplinan diri ada 5 pilar yang menopangnya :
1. Acceptance
2. Will Power
3. Hardwork
4. Industry
5. Persistence
Kelima pilar ini akan coba saya jabarkan dalam artikel yang berbeda sehingga akan lebih jelas dalam memahami maksudnya.

Mari kita tingkatkan terus kedisiplinan diri untuk mengembangkan seluruh potensi yang ada pada diri kita... Jangan tunda lagi, lakukan sekarang!

Salam bahagia
Hammar
Aljas Hammar Web Developer

30 November 2009

Menulis dan Melamun Sebagai Ritual Harian


It's a new day... it's a new life...
Ungkapan itu kayaknya mengungkapkan perasaanku dalam menjalani hari demi hari di kehidupan ini. Menurutku setiap hari kita dilahirkan kembali untuk meningkatkan usaha kita dalam proses belajar menjadi seorang manusia hamba Allah yang utuh, yang bisa dibanggakan oleh Penciptanya. Setiap hari adalah bagian dari suatu rangkaian proses panjang pencarian makna hidup.

Aku memulai hari ini dengan semangat baru, komitmen baru untuk memulai suatu ritual/kebiasaan baru yang bermakna. Komitmen ini muncul setelah kemarin mengobrak-abrik isi blog pak Roni, yang luar biasa... harapanku kebiasaan ini akan membawa manfaat bagi perkembangan diri dan kehidupan...

Beberapa ritual yang sudah kulakukan pagi ini yaitu diantaranya, biasanya aku begitu bangun yang pertama kali ku pegang n kulakukan adalah mencari hp untuk melakukan surving internet hehehe... Melihat apa yang terjadi di situs-situs komunitas/pertemanan seperti facebook, twitter dan sebagainya. Atau begitu bangun langsung melakukan aktivitas lain, soalnya bangunnya kesiangan :). Tapi aku mencoba mulai hari ini, untuk mulai bangun pagi hari lebih pagi dari biasanya, lalu begitu mulai membuka mata, aku berhenti sejenak, dalam posisi setengah sadar, untuk berdiam diri. Benar-benar berdiam diri, hanya mendengarkan alunan suara nafas, dengan mata terpejam, pikiran kosong. Mempersiapkan diri untuk menghadapi hari ini. Mempersiapkan diri untuk mengalami segala keajaiban untuk hari ini. Hasilnya... hati menjadi lebih bersemangat, pikiran menjadi lebih segar, penuh dengan inspirasi. Setelah itu baru dech melakukan aktivitas lain, seperti beribadah, membaca buku dan berbagai aktivitas harian lainnya.

Kemudian ada kegiatan lain yang juga ingin kujadikan ritual baru dalam kehidupanku, yaitu menulis. Ternyata kegiatan menulis itu sangat besar manfaatnya bagi diri kita. Kegiatan membaca dan menulis adalah aktivitas yang tak terpisahkan.

Saat mengunjungi blognya pak Jamil, aku menemukan satu artikel yang menarik yaitu 7 Kedahsyatan Menulis. Beliau menjelaskan bahwa setidaknya ada 3 alasan penting kenapa kita harus menulis, diantaranya :
1. Menulis itu penting supaya ilmu tidak hilang.
2. Menulis untuk memperkuat otak kanan, yang berkenaan dengan hal-hal non logical seperti mempertajam perasaan, menumbuhkan empati, meningkatkan sensitivitas, kreativitas.
3. Menulis untuk mengurangi tacit knowledge (ilmu/kelebihan seseorang yang sulit ditransfer ke orang lain).

Lalu menurut beliau ada 7 Kedahsyatan menulis diantaranya :
1. Mengurangi stres, kondisi mental orang-orang yang terbiasa mengekspresikan emosi atau unek-unek dengan menulis, lebih stabil dibandingkan orang-orang yang tidak terbiasa menulis.
2. Membantu menemukan jalan hidup.
3. Menjaga semangat dan komitmen
4. Mencari dan memperkaya inspirasi
5. Mendatangkan passive income. Tulisan yang baik sangat bisa dijadikan buku, diterbitkan dan dijual, yang bisa mendatangkan income kepada penulisnya.
6. Meningkatkan kreativitas. Menulis yang rutin dan sinambung, lama-kelamaan akan mendorong kita untuk terus menggali lebih dalam bagaimana cara menulis yang baik, penyampaian yang sistematis, dan gaya penulisan yang menarik.
7. Menyimpan memori. Terlalu banyak kisah hidup dan aktivitas keseharian yang sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja, tanpa dibungkus dalam album yang setiap saat bisa dibuka2 kembali. Mau itu kisah suka, mau itu duka, akhirnya pasti akan membuat kita tersenyum ketika membacanya kembali. Sebagai catatan perjalanan hidup, sehingga kita bisa belajar hari demi hari untuk memperbaiki diri.

Setelah menyadari begitu besar manfaat dari aktivitas menulis, maka aku ambil keputusan mulai hari ini. Aku harus menyediakan waktu khusus satu jam setiap pagi untuk menulis apapun yang ada dalam benak dan pikiranku. Aku harus menyingkirkan segala macam alasan dan rasa malas yang menghalanginya. Emang mungkin pada awalnya akan agak sulit untuk mengeluarkan ide dalam bentuk tulisan. Apalagi untuk pemula seperti aku. Tapi itu gak boleh dijadikan alasan, semua orang yang memulai sesuatu pasti akan sulit pada langkah pertama. Tapi langkah selanjutnya tinggal mengikuti dan segalanya akan lebih mudah. Yang penting komitmen, terus berusaha dan belajar terus menerus.

Semoga apa yang kulakukan akan selalu membawa manfaat dan kebaikan bagi diriku. Amin...

Salam Bahagia,
Hammar
Aljas Hammar Web Developer

25 November 2009

Lembu Yang Gagal Melewati Jendela


Kalau kita datang ke toko buku, maka kita jumpai ada begitu banyak autobiografi tokoh-tokoh Indonesia di berbagai bidang dan umumnya ditulis oleh para mantan pejabat, pengusaha, tokoh masyarakat dan sebagainya. Tapi yang menimbulkan pertanyaan adalah, mengapa dengan begitu banyaknya orang-orang hebat tersebut, kita justru mengalami krisis kepemimpinan yang masih belum bisa membawa kita keluar dari kemelut krisis yang melanda kehidupan kita ini?

Mengenai pencerahan ini guru di zaman dulu mengumpamakan seekor lembu yang melewati jendela : tanduk, kaki dan tubuhnya berhasil lewat, namun ekornya malah tersangkut. Seorang bisa saja melakukan hal-hal yang mulia, tapi kalau keinginan untuk menjadi termasyhur tidak bisa dihilangkan, maka ia masih memiliki kelemahan. Seperti halnya lembu tersebut di atas dan akhirnya tidak bisa lolos karena ekornya tersangkut. Meski kelemahan secuil saja, orang belum bisa dianggap mengerti.

Alkisah, ada seorang murid yang setelah selesai belajar, berusaha menyebarkan ilmu yang didapat dari gurunya kemana-mana. Ia mengajarkan doktrin mengenai "hidup adalah kosong karena itu kita tidak boleh melekat pada, baik hal yang susah maupun yang menyenangkan hati".
Karena kepandaiannya dalam memberikan ceramah, dalam waktu singkat namanya terkenal di mana-mana. Ia menceritakan dengan bangga semua itu kepada gurunya dan bermaksud menuliskan semua pandangannya dalam sebuah buku. Dengan penuh semangat ia menulis surat kepada gurunya mengenai usahanya mengharumkan nama gurunya dan minta supaya gurunya memberikan komentar atas buku yang ditulisnya.
Tak lama kemudian datanglah komentar singkat dari gurunya berbunyi : Kentut Busuk!
Tentu saja murid itu sangat kecewa dan buru-buru datang menemui gurunya untuk minta kejelasan.
Sang guru hanya tersenyum sambil berkata, "Kamu kan giat sekali mengajarkan supaya jangan terikat pada hal yang menyenangkan maupun yang susah!"
Memang tidak mudah melaksanakan apa yang kita bicarakan. Orang meski sudah mempelajari berbagai ilmu pengetahuan, tapi akhirnya belum mampu meleburkan diri dalam kesadaran kosmis.

Kita bisa menghindarkan diri supaya tidak menjadi lembu yang gagal melewati jendela karena ekornya tersangkut. Karena meski telah dan sedang melakukan hal-hal yang luar biasa, merasakannya sebagai hal yang biasa.

Sang Biasa

Mata memandang berlaksa fenomena, hati tetap tak bergeming... Biasa
Telinga mendengar puji dan cela, hati mampu tersenyum... Biasa
Di tengah rintangan suka duka, kaki tak berhenti melangkah... Biasa
Sukses-gagal datang menerpa, hati hening bahagia... Biasa

Dalam biasa, bebas leluasa; Karena biasa, selalu bahagia
Dengan biasa, putus belenggu dosa, hati bersih tiada noda.
Hanya dengan senjata biasa, takluklah semua mara,
tercapailah bebas merdeka untuk melanglang buana.
Berkelana dalam samsara, bergelut di tengah samudera nestapa;

Berjuang tiada henti dalam setiap masa.
Datang... datang dengan hati biasa, membawa semua kembali biasa,
hingga datanglah kerajaan biasa, semua sukacita dalam biasa;
Bahagia merdeka sepanjang masa... Luar Biasa

Manusia biasa mengasihi segalanya, namun dalam hatinya yang biasa,
ia tak pernah merasa telah memberikan kasih yang besar untuk orang di sekelilingnya.
Karena tiada bekas di dalam hati, maka tiada tuntutan dalam jiwa;
Karena tiada tuntutan dalam jiwa, tiada yang mampu menghentikan langkah kasihnya.
Inilah cinta sejati yang mampu lestari-kekal abadi
(Wang Che Kuang)

(Kearifan Kuno Di Zaman Modern, Jusuf Sutanto)
Aljas Hammar Web Developer

01 Agustus 2009

Bertemu "Seseorang yang Lain" dalam Diri



Apakah anda percaya bahwa dalam diri anda sebenarnya ada “orang lain” – orang yang lebih besar daripada yang anda dapat sadari dan bayangkan, daripada kenyataan yang ada saat ini? Pertanyaan ini sangat penting untuk dipahami karena jika di dalam diri anda sendiri tidak ada keyakinan, bagaimana anda bisa mengembangkan dan membawa semua hal yang masih bersifat potensi itu ke dalam alam nyata?

Ada seorang tokoh seniman pada abad pertengahan yang sangat termasyhur karyanya, Michaelangelo Buonarroti memiliki falsafah pemikiran yang sangat indah akan pekerjaannya. Menurutnya pekerjaan seorang seniman pemahat adalah membuang bagian-bagian yang tidak penting dari sebuah bentuk yang sebenarnya sudah ada dalam suatu batu pualam. Ia meyakini bahwa pada setiap onggokan batu pualam sebenarnya sudah ada suatu bentuk jadi. Dengan demikian, jika seseorang mau membuang bagian-bagian yang tidak diperlukan yang menutupinya saat ini, ia akan mendapatkan sebuah mahakarya.

Pertanyaannya adalah apakah anda juga melihat ada sesuatu sosok yang besar dalam diri anda sendiri? Atau pernahkah anda melihatnya? Atau anda malah sering melihat seseorang yang babak belur dalam diri anda sendiri? Atau bahkan anda tidak pernah menjenguknya sama sekali?

Tanyakan pada diri sendiri, “Apakah aku menemukan ada seseorang yang besar, seorang yang bukan orang sembarangan atau kelas rata-rata? Tidak mudah memang, namun saat anda menemukannya sendiri, maka ia akan muncul dan menampakkan siapa dirinya.

Setelah ada menemukannya maka yang perlu dilakukan hanyalah membuang bagian-bagian yang selama ini menutupi “orang besar” yang ada dalam diri anda tersebut.

"Treat a man as he is and he will be as he is. Treat a man as he can be or should be, and he will become as he can and should", Gothe.

Setelah anda sudah merasa yakin, atau punya keyakinan yang mulai menggema dalam diri anda sendiri bahwa “Ya, memang benar ada orang lain, ada pribadi lain yang lebih besar daripada yang dapat anda bayangkan dan pikirkan saat ini.” Selanjutnya anda pun mulai menggugat kepada diri sendiri, bahwa sebenarnya potensi dan kesanggupan anda saat ini jauh lebih besar daripada apa yang sedang anda kerjakan hari-hari ini.

Dalam menemukan dan membuat apa yang selama ini terpendam bisa muncul ke permukaan penting bagi kita untuk memilih dengan siapa kita berteman dan bersahabat. Sebaiknya kita tidak sembarangan bersahabat atau bersekutu dengan mereka yang memiliki hobi menggertak nyali orang lain pada saat seseorang ingin maju dengan pernyataan-pernyataan yang meragukan kemampuan anda, meskipun semua diucapkan untuk dan atas nama “bercanda”.

Kunci sukses itu sebenarnya sangat sederhana. Kita hanya perlu satu guru. Guru itu ada di dalam diri kita, dalam hati yang mungkin gelap karena jarang kita kunjungi dan tidak pernah kita nyalakan pelita. Hanya kita yang bisa membukanya dengan mengambil kunci berupa pertanyaan, “Siapa diriku ini”, “Apa misi hidupku di dunia ini?”. Temukan kunci sukses dalam diri. Jika sudah ditemukan maka tidak ada yang bisa menghalangi jalan menuju sukses dan anda tidak mungkin tersesat lagi karena anda sudah tahu tempat yang indah yaitu dalam diri.

Luangkan waktu untuk berhening, masuk dan berdialog ke dalam diri sampai terdengar dengan mesra jawaban dari “seseorang” dalam diri anda. Yang diperlukan hanyalah kejujuran hati.

Coba anda cermati cuplikan syair lagu Mariah Carey yang berjudul Hero ini. Anda bisa meluangkan waktu untuk mendengar lagu ini kembali dan menikmati syairnya, sambil bertanya dalam diri sendiri, “Apakah aku menemukan ada seseorang yang besar dalam diriku?”

There’s a hero

If you look inside your heart

You don’t have to be afraid

Of what you are

There’s an answer

If you reach into your soul

And the sorrow that you know

Will melt away

And then a hero comes along

With the strength to carry on

And you cast your fears aside

And you know you can survive

So when you feel like hope is gone

Look inside you and be strong

And you’ll finally see the truth

That a hero lies in you

It’s a long road

When you face the world alone

No one reaches out a hand

For you to hold. You can find love

If you search within yourself

And the emptiness you felt

Will disappear

Lord knows

Dreams are hard to follow

But don’t let anyone

Tear them away. Just hold on

There will be tomorrow

And in time. You’ll find the way

afraid

our heart

rang yang besar dalam diriku?'ndiri, "o ini. Anda bisa meluangkan waktu untuk mendengar lagu ini k

Dalam kehidupan orang-orang yang melangkah ke puncak, ada masa dalam kehidupan mereka ketika mereka menemukan “hero” dalam dirinya. Dan benar, setelah ditemukan “hero” itu menunjukkan siapa dirinya. Sudahkah anda berjumpa dengannya?


Dikutip dari buku "Raise You Up, Discover and Shaping a Change-Leadership into Yourself", Hendrik Lim, M.B.A

Aljas Hammar Web Developer

16 Juli 2009

Ambil Keputusan Untuk Bahagia...


Loh bukannya kebahagiaan itu tergantung dari situasi, pada segala sesuatu yang menimpa diri kita, pada apa yang kita peroleh, pada apakah keinginan kita terpenuhi atau tidak? Banyak orang menunggu keadaan berjalan sesuai dengan semua yang mereka inginkan, baru bisa bahagia. Mereka menunggu sampai situasi mengizinkan mereka untuk bahagia. Alhasil kebanyakan dari mereka akhirnya justru tidak pernah merasa bahagia karena ternyata ada banyak hal yang tidak berjalan sesuai dengan yang mereka inginkan. Itulah yang normalnya terjadi pada kebanyakan orang.

Cara Gila untuk Bahagia

Nah sekarang mari kita menjadi orang yang tidak normal. Kalau melakukan hal normal dengan cara normal, anda akan mendapatkan hasil normal dan yang sudah biasa anda dapatkan. Kalau anda melakukan hal yang tidak biasa dengan cara yang tidak normal, maka akan tercipta hasil yang tidak biasa kan? Kalo orang yang tidak normal mereka memutuskan untuk menjadi bahagia dulu untuk bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Waduh apaan lagi ini? Gila... Apakah tidak terlalu percaya diri, kok bisa-bisanya muncul ide untuk memutuskan bahagia dalam situasi yang tidak menguntungkan. Jawabnya, Betul… Memang gila, katanya tadi pengen hasil yang tidak normal hehe...

Setiap hari kita menyaksikan banyak orang memutuskan dan mengambil tindakan yang berbeda dalam situasi yang berbeda. Bahagia, mengeluh, marah, kesal, frustasi dan lainnya adalah soal keputusan. Kita berhak memutuskan sendiri respons seperti apa yang kita berikan terhadap berbagai situasi atau hasil yang kita peroleh. Kita yang memegang kendali pikiran kita.

Jadi 'Pilot' untuk 'Kapal" pikiran kita

Nah apa lagi ini, kok bisa memegang kendali pikiran... Masing-masing dari kita punya 'pilot otomatis' yang kita serahi segala kepercayaan untuk menjalankan hidup kita. Kita menyebutnya 'kebiasaan'. Beberapa dari kita percaya 100% pada kebiasaan untuk membawa kita ke manapun ia suka. Beberapa melakukan evaluasi arah dan penyesuaian yang dianggap perlu.

Jadi disini ada peran alam 'sadar' dan 'bawah sadar' yang bisa kita simbolkan sebagai kapten dan kapalnya. Bawah sadar sebagai kapal penuh dengan berbagai sumber daya untuk mengantar anda ke tujuan, baik yang sudah anda sadari dan hidupi, maupun yang belum. Sementara alam sadar sebagai sang kapten adalah yang mengendalikan kapal. Kapal mengikuti instruksi sang kapten, apapun instruksinya termasuk akan berjalan secara otomatis apabila diberi instruksi 'pilot otomatis'.

Kita adalah makhluk kebiasaan, melakukan apa yang sudah kita yakini bagus atau benar. Tidak ada salahnya dengan hal ini, kalau memang hasilnya sesuai dengan yang kita inginkan. Yang jadi masalah kalo kebiasaan itu ternyata tidak memberi hasil yang kita inginkan, tidak bermanfaat. Seperti kapan yang hanya karena sudah terbiasa berjalan lurus, saat ketemu gunung es, kapal kita biarkan berjalan lurus. Akhirnya malapetaka jadinya...

Misalnya pada suatu kejadian anda berkata "Ah! Tidak usah dipikirin. Nanti, kalau sedang tidak dipikirin, juga inget sendiri!" Bawah sadar kita akan memberikan hasil persis seperti itu. Saat anda tidak memikirkannya, ia meloncat ke kesadaran anda, dan kemudian anda mengatakan "Tuh, kan!". Yang tidak anda sadari anda memberi instruksi ke kapal untuk lupa dan kemudian memunculkannya hanya saat tidak sedang anda pikirkan.

Kenapa anda tidak mengatakan, "Ingat!" dan membiarkan kapal anda bekerja menelusuri jalur sesuai itu? Kenapa tidak anda katakan, "Saya mengingatnya sekarang!" dan membuat bawah sadar anda menggali berbagai informasi yang pernah ia simpan untuk anda.

Anda yang Memutuskan...!

Yang anda capai atau tidak capai sekarang adalah hasil dari keputusan anda. Selalu ada titik dimana anda membuat keputusan tindakan! Suka atau tidak.Perbedaan orang yang efektif dan yang tidak, terletak pada keputusan yang mereka buat. Orang yang belum mendapatkan hasil yang dia inginkan, itu hanya karena anda belum memutuskan untuk mendapatkannya. Jika anda belum bahagia, itu karena anda belum memutuskan untuk bahagia. Berhati-hati terhadap pemikiran anda, baik anda lakukan secara sadar atau bawah sadar semua yang ada pikirkan efeknya bagai sihir. Apakah anda berfikir untuk mendapatkan hari baik atau buruk, keduanya terkabulkan. Kalau anda bisa memilih, kenapa tidak membuat keputusan yang membahagiakan? Kenapa kita menyabotase kebahagiaan kita sendiri?

Ingat pada saat anda mulai bangun pagi dan berkata, "Hidup benar-benar susah!", atau bertanya, "Kesialan apa lagi yang akan saya alami hari ini?" Hati-hati terhadap pikiran anda! Kenapa tidak mulai dari sekarang anda bangun bagi dan berkata, "hari ini akan jadi hari yang luar biasa" atau" Kesuksesan apa lagi yang akan saya alami hari ini?"

Pilih mau jadi Penyebab atau menjadi Akibat

Keputusan untuk bahagia datang dari dalam dunia internal kita, bukan eksternal. Sungguh menyedihkan kalau harus mewajibkan segala situasi selalu sesuai dengan keinginan dan ukuran mereka. Yang membuat mereka langsung mencari siapa yang bertanggung jawab atas kebahagiaannya jika apa yang terjadi tidak sesuai dengan yang mereka inginkan. Jadilah seorang penyebab, ambil kendali keputusan pikiran dan tindakan anda.

"Jadi putuskan kebahagiaan anda setiap hari segera setelah bangun dari tidur! Bahagia adalah sebuah keputusan!"

Gambar diperoleh dari sini...

Dikutip dari : Be Happy! Get What You Want!, Hingdranata Nikolay

Aljas Hammar Web Developer