Mengenai pencerahan ini guru di zaman dulu mengumpamakan seekor lembu yang melewati jendela : tanduk, kaki dan tubuhnya berhasil lewat, namun ekornya malah tersangkut. Seorang bisa saja melakukan hal-hal yang mulia, tapi kalau keinginan untuk menjadi termasyhur tidak bisa dihilangkan, maka ia masih memiliki kelemahan. Seperti halnya lembu tersebut di atas dan akhirnya tidak bisa lolos karena ekornya tersangkut. Meski kelemahan secuil saja, orang belum bisa dianggap mengerti.
Alkisah, ada seorang murid yang setelah selesai belajar, berusaha menyebarkan ilmu yang didapat dari gurunya kemana-mana. Ia mengajarkan doktrin mengenai "hidup adalah kosong karena itu kita tidak boleh melekat pada, baik hal yang susah maupun yang menyenangkan hati".
Karena kepandaiannya dalam memberikan ceramah, dalam waktu singkat namanya terkenal di mana-mana. Ia menceritakan dengan bangga semua itu kepada gurunya dan bermaksud menuliskan semua pandangannya dalam sebuah buku. Dengan penuh semangat ia menulis surat kepada gurunya mengenai usahanya mengharumkan nama gurunya dan minta supaya gurunya memberikan komentar atas buku yang ditulisnya.
Tak lama kemudian datanglah komentar singkat dari gurunya berbunyi : Kentut Busuk!
Tentu saja murid itu sangat kecewa dan buru-buru datang menemui gurunya untuk minta kejelasan.
Sang guru hanya tersenyum sambil berkata, "Kamu kan giat sekali mengajarkan supaya jangan terikat pada hal yang menyenangkan maupun yang susah!"
Memang tidak mudah melaksanakan apa yang kita bicarakan. Orang meski sudah mempelajari berbagai ilmu pengetahuan, tapi akhirnya belum mampu meleburkan diri dalam kesadaran kosmis.
Kita bisa menghindarkan diri supaya tidak menjadi lembu yang gagal melewati jendela karena ekornya tersangkut. Karena meski telah dan sedang melakukan hal-hal yang luar biasa, merasakannya sebagai hal yang biasa.
Sang Biasa
Mata memandang berlaksa fenomena, hati tetap tak bergeming... Biasa
Telinga mendengar puji dan cela, hati mampu tersenyum... Biasa
Di tengah rintangan suka duka, kaki tak berhenti melangkah... Biasa
Sukses-gagal datang menerpa, hati hening bahagia... Biasa
Dalam biasa, bebas leluasa; Karena biasa, selalu bahagia
Dengan biasa, putus belenggu dosa, hati bersih tiada noda.
Hanya dengan senjata biasa, takluklah semua mara,
tercapailah bebas merdeka untuk melanglang buana.
Berkelana dalam samsara, bergelut di tengah samudera nestapa;
Berjuang tiada henti dalam setiap masa.
Datang... datang dengan hati biasa, membawa semua kembali biasa,
hingga datanglah kerajaan biasa, semua sukacita dalam biasa;
Bahagia merdeka sepanjang masa... Luar Biasa
Manusia biasa mengasihi segalanya, namun dalam hatinya yang biasa,
ia tak pernah merasa telah memberikan kasih yang besar untuk orang di sekelilingnya.
Karena tiada bekas di dalam hati, maka tiada tuntutan dalam jiwa;
Karena tiada tuntutan dalam jiwa, tiada yang mampu menghentikan langkah kasihnya.
Inilah cinta sejati yang mampu lestari-kekal abadi
(Wang Che Kuang)
Mata memandang berlaksa fenomena, hati tetap tak bergeming... Biasa
Telinga mendengar puji dan cela, hati mampu tersenyum... Biasa
Di tengah rintangan suka duka, kaki tak berhenti melangkah... Biasa
Sukses-gagal datang menerpa, hati hening bahagia... Biasa
Dalam biasa, bebas leluasa; Karena biasa, selalu bahagia
Dengan biasa, putus belenggu dosa, hati bersih tiada noda.
Hanya dengan senjata biasa, takluklah semua mara,
tercapailah bebas merdeka untuk melanglang buana.
Berkelana dalam samsara, bergelut di tengah samudera nestapa;
Berjuang tiada henti dalam setiap masa.
Datang... datang dengan hati biasa, membawa semua kembali biasa,
hingga datanglah kerajaan biasa, semua sukacita dalam biasa;
Bahagia merdeka sepanjang masa... Luar Biasa
Manusia biasa mengasihi segalanya, namun dalam hatinya yang biasa,
ia tak pernah merasa telah memberikan kasih yang besar untuk orang di sekelilingnya.
Karena tiada bekas di dalam hati, maka tiada tuntutan dalam jiwa;
Karena tiada tuntutan dalam jiwa, tiada yang mampu menghentikan langkah kasihnya.
Inilah cinta sejati yang mampu lestari-kekal abadi
(Wang Che Kuang)
(Kearifan Kuno Di Zaman Modern, Jusuf Sutanto)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar